Kanreapia

dsci1643

Kamis pagi ini kami seisi asrama merasa malas untuk bangun lebih awal. Meski hari ini merupakan salah satu hari yang akan dicatat dalam sejarah demokrasi bangsa Indonesia sebagai salah satu hari terpenting. 9 April 2009, gegap gempita masyarakat Indonesia, memilih, menyoblos, menyontreng para wakil mereka di DPR.

,
Namun……., sekali lagi namun……, aku harus merelakan suaraku terbuang sia-sia. Bukan aku tak mau, tapi sistem yang dibangun panitia pemilihan yang tidak mengijinkanku memilih dimanapun aku berada di Indonesia ini. Meski aku punya Kartu Tanda Penduduk yang diakui secara nasional. Padahal aku sedang melaksanakan tugas yang tidak memungkinkanku pulang kampung. Meski hanya untuk sekedar mengurus surat pindah.

,
Sudahlah, aku tak hendak membicarakan kebolongan sistem itu disini. Hari ini kami bertolak ke daerah pegunungan Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Pukul 10:10 kami mulai bergerak. Mengendarai dua buah sepeda motor. Melewati jalan Hartasning, kami menghindari perhatian Polisi Lalu Lintas karena salah satu dari kami tidak mengenakan helm. Itulah mengapa sebelum menempuh perjalanan sepanjang 74 km menuju Malino, kami berencana mampir ke rumah Carla untuk mengambil helm. Selepas dari rumah Carla yang rimbun dan tenang, kami langsung berbelok ke arah Malino, jalanan yang tidak bisa dibilang bagus mengawal kami hingga beberapa kilometer.

,
Sampai di Kecamatan Bili-bili jalanan mulai menanjak. Disana kami menemukan sebuah danau yang luar biasa luas dan panjang. Kalau beberapa hari sebelumnya kami mendengar berita Situ Gintung mampu memporak-porandakan beberapa RT di daerah Cirendeu Tangerang, maka danau Bili-bili ini mampu menghancurkan seluruh kawasan Gowa, Sungguminasa hingga Makassar bila tanggul penahannya jebol. Sayangnya kami tidak bisa menyusuri tanggul penahan sepanjang 500 meter tersebut karena pintu masuk dijaga oleh beberapa polisi yang melarang kami masuk.

,
Kami melanjutkan perjalanan. Jalanan kemudian berkelok-kelok. Sebentar tanjakan sebentar kemudian turunan. Mengingatkanku pada jalanan menuju kota Malang dari arah Kediri. Karakter jalanan yang nyaris sama. Hal yang membedakan hanyalah rusaknya jalanan di Bili-bili ini.

,
Sampai di Malino kami beristirahat sejenak di sebuah persimpangan, tujuan kami masih berjarak lima kilometer. Sebuah rumah di puncak tertinggi jalan poros ini. Rumah seorang kawan kami. Gerimis yang mulai turun memaksa kami bergegas. 13:30 WITA, sampailah kami di desa Kanreapia, Kecamatan Tombolo Pao Kabupaten Gowa.

,
Kami berhenti ketika kami melewati sebuah TPS disudut jalan, TPS 02 Kanreapia. Seorang pemuda berbadan tegap, berkalung sebuah papan nama merah putih menemui kami. Di kertas papan nama yang tergantung di lehernya tersebut tertulis: SAKSI Pemungutan Suara 2009. Dialah kawan kami, Jamal. Rumahnya di seberang jalan yang memiliki tanah setinggi atap TPS 02 tersebut. Setelah membawa kami kerumahnya, jamal kembali bertugas di lokasi pemilihan. Jam menunjukkan pukul 14:15 WITA, namun TPS 02 tersebut belum mulai menyelenggarakan penyontrengan meski sejak pagi sudah banyak warga Kanreapia berkumpul di sekitarnya. Hal tersebut terjadi karena – kata jamal – kartu suara tertukar dengan daerah pilihan lain sehingga harus di urus dahulu ke kantor KPU di Kota Gowa 70 kilometer jaraknya. Kinerja KPU memang luar biasa!

,
Kemudian yang aku tahu dari Jamal, pemungutan suara dimulai selepas pukul 15, yang pastinya berlangsung hingga malam. Setelah petugas dan saksi-saksi berkeliling kampung untuk menjemput suara sepuluh warga yang sakit dan tidak bisa mendatangi TPS, penghitungan suara dimulai pukul sepuluh malam dan berlangsung hingga pukul 5 dini hari. Sebab Jamal baru kembali ke rumah setelah azan subuh berkumandang. Luar biasa!

,
10 April 2009, Sunrise di Kanreapia. Semilir angin memainkan rambutku yang terurai. Kabut tipis masih menyelimuti gunung-gemunung di sekitar Kanreapia. Sinar matari sudah melumuri punggung gunung sehingga menimbulkan warna kilau memukau di gunung-gunung yang dekat serta biru gelap dan semakin tipis di puncak gunung terjauh.

,
Kantuk masih menggelayut, dingin membekukan persendian. Namun aku tak ingin kehilangan momen yang langka ini. Jika pilihannya adalah tidur meringkuk dalam selimut tebal. Aku tak perlu jauh-jauh berkendara ke kampung ini.

,
Memanggang punggung pada sinar mentari sambil menyaksikan geliat pagi penduduk pegunungan adalah pilihan yang tepat. Beberapa aparat militer yang lewat menyapa kami. Dengan gegas mereka menuju ke pusat pelatihan dan komando tentara yang berada beberapa kilometer dari kampung. Para anggota militer tersebut memang terkenal ramah khususnya pada penduduk kampung di sekitar Tombolo Pao. Sebuah interaksi yang menakjubkan!

,
Hari ini hari Jum’at, kami memilih untuk melakukan beberapa perjalanan selepas sholat Jum’at. Maka pagi ini, berita penghitungan suara cepat di televisi menjadi santapan kami. Berbagai argumentasi, silang pendapat, perang prediksi dan cemooh maupun pujian mewarnai obrolan kami. Namun satu hal yang pasti, tak satupun dari kami yang layak disiapkan kamar di rumah sakit jiwa.

,
Selepas sholat Jum’at yang singkat namun membara, kami menelusuri jalan menuju kampung Lembang, seorang kawan yang lain tinggal disana. Jalanan yang curam dan bergelombang memaksa kami untuk ekstra hati-hati. Sekali lagi kami disuguhi pemandangan yang maha dahsyat.

,
Jalur berkelok-kelok, berpagar dinding padas dan jurang yang dalam. Jalanan ini menuju sebuah ngarai yang luas. Gunung gemunung melatari lembah yang tak habis-habis. Tak sanggup aku melukiskannya dengan kata-kata. Aku memang terpana dengan indahnya Edensor yang diceritakan Andrea Hirata. Aku juga merasa takjub dengan pemandangan di benua Afrika seperti dikisahkan Karl May. Namun menyusuri jalan ini, aku seperti menemukan keindahan yang sama tetapi kali ini keindahan tersebut masuk melalui bahasa kalbuku sendiri.

,
Belum tuntas mata dan hati ini memandang takjub, kami sudah sampai di tujuan. Sebuah rumah panggung yang tertata rapi. Nampak sejuk dan asri dengan beragam bunga-bunga dalam pot berjejeran di belakang tangga. Disitu kami bertemu empat kawan yang sudah berkumpul lebih dulu. Mila, Eni, Ayu dan Rahma.

,
Grapyak dan semana’, kedua karakter tersebut melekat kuat pada mereka, dengan pembawaan yang santai, obrolan mengalir seperti udara siang di bawah pohon rindang. Sejuk dan mengalir bebas.

,
Menjelang ashar kami berpamitan pada tuan rumah, Mila. Kali ini kami melanjutkan kunjungan ke rumah Eni. Ayu dan Rahma turut serta. Dengan pemandangan yang tak kalah menarik, rumah Eni berada di tepi bukit, berlatarkan lembah memanjang dari kiri ke kanan. Tepat di samping rumah, berjejeran ruangan tempat anak-anak pegunungan menuntut ilmu. SD Inpres. Bagiku, melihat sebuah sekolah di kampung-kampung pedalaman adalah suatu hal yang menyenangkan, melegakan. Kunjungan kami sore ini ditutup dengan makan jeruk Bali yang dipetik di halaman rumah.

,

Akhirnya kami harus meninggalkan perempuan-perempuan ramah tersebut di rumah itu. Kami kembali menyusuri jalan poros yang berkelok-kelok. Kali ini jalanan menanjak. Rasa lelah tak mampu mengurangi rasa puas yang dihasilkan dari perjalanan sore ini.

,

Malam ini kami menghabiskan waktu di depan televisi sambil berbincang mengenai potensi pegunungan Malino dan sekitarnya di kecamatan Tombolo Pao. Potensi yang sungguh kaya namun belum terberdayakan. Kalau ada tempat wisata yang paling aku sarankan untuk dikunjungi, kawasan pegunungan inilah salah satu yang terbaik. Dengan kehidupan masyarakat yang masih asli dan ramah. Ditambah potensi alamnya yang indah dan alami. Siapapun tidak akan menyesalkan perjalanan ke Tombolo pao ini. [ ]

to be continued……………

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s